Kalau sedang mepet uang belanja kadang-kadang dituntut kreativitas ibu rumah tangga
dalam mengolah bahan makanan yang ada (atau yang murah) menjadi masakan yang enak dan, kalau bisa, bergizi juga yang lebih penting adalah porsi yang cukup untuk seluruh keluarga. Ya ampyuun..
Dalam petualangan masak memasak, itulah salah satu tantangannya. Kadang-kadang bikin semangat tapi kadang-kadang kelimpungan juga.
Andalan saya kalau sedang mepet begini adalah saus tiram, saus teriyaki, kecap inggris, dan kecap Bango (tanpa bermaksud beriklan walau dicetak tebal). Bahan yang ada biasanya cuma ditumis dengan tambahan salah satu (atau salah dua) dari beberapa saus tersebut.
Saus dan kecap itu harus ada dalam persediaan.
Selain saus-saus tersebut yang kadang mengandung bumbu penyedap monosodium glutamat (msg), saya tidak menggunakan kaldu instan dan atau bumbu penyedap dalam masakan saya. Saya juga jarang memasak dengan bumbu instan. Saya lebih suka perpaduan garam dan gula untuk menyedapkan masakan.
Tapi saya tidak antipati terhadap bumbu-bumbu instan kok. Buktinya selama dua hari berturut-turut beberapa waktu lalu, saya memasak dengan beragam bumbu instan mulai dari bumbu instan untuk soto ayam, bumbu serba guna untuk tumisan kangkung, dan kaldu ayam instan untuk sup jagung.
Hasilnya memang tidak mengecewakan takarannya pas dan rasanya gurih sekali. Tapi kok saya tidak sreg yaa..
Saya dan Wicak juga penggemar mi instan dan saus botolan dan jangan lupakan jajanan pasar dan atau mi ayam yang lewat depan rumah.
Tahu sendirikan abang tukang bakso suka menambahkan bumbu penyedapnya ngga tanggung-tanggung, makanya saya suka minta untuk tidak ditambahkan bumbu itu. Seharusnya harga mi ayamnya dikurangi ya atau paling ngga ditambah baksonya satu :p
Kita tidak tahu berapa banyak bumbu dan atau bahan penyedap terutama msg yang ditambahkan ke dalam masakan yang kita beli di pasar atau di jalan, jadi waspadalah.
Waspada? Tapi msg apaan sih…